Friday, November 11, 2011

Doa Untuk Putraku

Doa Untuk Putraku (Tulisan Jendral Douglas McArthur)


- Doa untuk Putraku -

Tuhanku...
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya. Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hatidalam kemenangan.
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku...
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak. Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan puteraku belajar untuktetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.
Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi, sanggup memimpin dirinya sendiri, sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.
Berikanlah hamba seorang putra yang mengerti makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka.
Putera yang berhasrat untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.
Dan, setelah semua menjadi miliknya...
Berikan dia cukup rasa humor sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku...
Berilah ia kerendahan hati...
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki...
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna...
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud, hamba, ayahnya, dengan berani berkata "hidupku tidaklah sia-sia."
   
*aku dapat dari Motivator Ternama : Andri Wongso

Intinya jadi aku pahami bahwa kesulitan itu Anugrah luar biasa untuk mengasah dan menempa kita jadi tangguh dan tidak lembek dan cengeng terhadap kehidupan

Thursday, November 10, 2011

Kalau Mama Punya Uang

Negara tropis mulai sering diguyur hujan, jadi merindukan teriknya matahari cerah.


Masih saja dan tetap saja halangan-halangan selalu terbentang tapi aku meyakini bahwa nikmatNya masih jauh lebih besar terhampar untukku.
9 tahun yang lalu, suara kecil Daffa kalau ingin mainan selalu tidak lama terjawabnya, kehidupan begitu bergulir mudah. akh sudahlah.

Sudah sebulan ini Menara kalau ikut aku ke toko klontong untuk beli beberapa keperluan dia selalu ikut, lalu dia jongkok dengan tenang di bagian mainan anak-anak, menatap mesra pada sebuah mobil yang ada remote control-nya itu. Begitu aku hampiri, dia dengan suara lucunya yang khas renyah itu berkata, "Kalau mama punya uang nanti, aku minta dibelikan mobilan (mobil-mobilan) ini boleh kan, sudah aku suruh tunggu itu mobilan lho Ma".
Keinginannya sederhana tapi dahsyat sabar dirinya tidak seperti anak lain yang harus dibelikan saat itu juga, dia juga tenang tidak merengek, justru karena dia begitu, seakan membuatku tertusuk, perih hatiku, ngilu.

Sabar ya Menara, kelak kita tidak begini, percayalah.
Saat inipun sudah mewah buat kita semua, Papa, Kakak Daffa, Menara dan Mama diparingI kesehatan dan cukup makan meski sederhana.
Sabar ya Nak.
Tangisan hatiku seakan menggodaku ingin kembali ke titik 9 tahun yang lalu tapi itu hanya bisikan maut menyedihkan.
Menghadapinya dengan kuat itu yang utama.
Aku percaya tidak selamanya kami seperti saat ini...
Biarlah kasih sayang Allah saat ini aku nikmati meski perih menahan akan duniawi sebentar saja...tunggulah barang sejenak ya Nak. Bisikku lirih.


ditulis ditengah badai pemikiran kenapa sejauh ini aku melangkah aku hanya bisa diam

Thursday, November 3, 2011

Terima Kasih, Kau disitu

Negara tropis panas membara, sepi menggema sunyi menyapa

Kalau kasih bertepuk sebelah tangan aku mau perbuat apa
Kalau kasih memihak disisi yang salah aku mau berdaya apa
Sudah pilihannya kalau bukan aku yang dibela dan diperjuangkan
Sudah pilihannya kalau dia di pihak yang menderaku, menjatuhkanku tapi aku tidak mau jadi korban

Sudah jalan hidup demikian yang harus aku lalui
Bukan menjadi orang yang harus diperjuangkan meski aku melimpahkan perhatian dan kasihku, itu sudah menjadi garisku
Maka aku menepi, menjauh, tidak berusaha menggapai kasihnya lagi

Aku tidak menyerah karena aku sudah tidak berjuang lagi menggapai kasihnya...kasih mereka padaku.
Adaku demikian dan aku menggenggam 3 hati yang sudah menjadi berkahku dariNya.
Terima kasih, kau disitu, kau di sisi yang tidak mungkin aku sapa karena ketegasanku, karena perbedaan yang mendasar.

*Sedih tapi tidak luluh lantak, tidak hancur karena kesadaran yang tegas ada bersamaku*

Damai di Ruang Jiwa

Negara tropis masih panas membara meski hujan sesekali menyapa.


Sinar mataku tetap ada meski asa menipis
Sinar mataku tetap berpegang teguh pada kumpulan-kumpulan doa yang menumpuk
Boleh asaku menipis tapi keyakinanku padaNya semakin jelas dan nyata
Boleh saja segelintir dari mereka meremehkan aku tapi aku tidak membiarkan jiwaku  terbunuh dengan cemooh mereka
Aku tetap yakin bahwa jalan itu terbentang luas 
Yang aku butuhkan adalah hening dalam doa tanpa gaduh mengeluh
Bentangan waktu yang tak kumengerti kapan akan tiba itu baiknya aku lewati dengan damai, menerima diriku yang begini adanya dengan segenap cinta.

 

Saturday, October 22, 2011

Berhenti

Negara tropis panas membara, membakar kebencian.

Beberapa anak tangga kehidupan kita tapaki, kadang kita dibuat merana, menangis, kecewa, sedih serasa terjerembab di anak tangga yang kita lalui setelah itu berganti di tangga yang membahagiakan, yang membuahkan hasil dari pengorbanan tenaga, pikiran dan harta. Artinya sudah sepantasnya kita bersyukur ketika sedih, kecewa, sakit lahir & batin kita tapaki anak tangga ini karena kelak kita akan menapaki anak tangga yang indah, sejuk hasil dari pengorbanan kita.
Sudah seharusnya aku menghilangkan rasa merana hanya karena hasutan dari seseorang yang memang bertujuan menjatuhkanku.
Pada akhirnya aku sadar kenapa dia begitu berusaha keras mengumbar bahwa aku dan suamiku ini begini begitu sampai membuat telinga panas sampai membakar hati, koq demikian tega dia menghasut ???  Kenapa dia sampai begitu ? Jawabnya satu karena dia merasa aku begitu nyaman dan tinggi indah makanya aku dianggapnya perlu dihasut.
Aku yakin dia begitu karena dia begitu menganggapku koq aku banyak kelebihan dibanding dia ya sampai membakar dirinya dengan iri hati sampai dia melakukan hasutan.
Aku pikir sudahlah tidak ada ruginya aku dihasut, mungkin secara nyata sepertinya orang terdekat yang mencintaiku sedikit membenciku, aku pikir biarlah cinta mengalir apa adanya, kalau memang sewajarnya mereka menerima aku apa adanya, setidaknya mereka tidak perlu termakan hasutan si mulut manis yang sok kenal sok dekat.
Aku memilih diam,tidak membela diri dan tidak membalas kelakuannya, karena aku tahu Allah mboten sare, Allah Maha Melihat.
Aku berhenti di Allah saja, tidak mau aku jadi sedih hanya karena kelakuan orang yang iri padaku, orang yang memang suka aku sedih, orang yang suka menjauhkan aku dari mereka yang mencintaiku terlebih dahulu daripada dia.
Hasbunallah Wa Ni'mal Wakil, Hanya Allah sebaik-baiknya pelindung.

Pelajaran berharga, kalau kita bisa mempengaruhi orang kenapa mesti mempengaruhi hal-hal buruk, kenapa mesti kita menghasut orang lain yang membuat orang lain tersebut rugi.

Wednesday, September 14, 2011

Jalan Apapun yang Dilalui itu Hal Terbaik yang Harus Kita Syukuri

Negara Tropis, kering merindukan hujan.


Semalam aku terjaga lalu hening dalam kesendirian merenung dalam doa.
Seakan kumparan waktu mengurai, serat-seratnya terlihat jelas, dan baiknya aku sibuk mohon ampunan atas segala keluhku. Aku yakini perihnya hati, kerasnya hidup itu memang layak aku lalui dengan penuh syukur karena aku sadar bahwa semua kepahitan, kekeringan, memang harus aku lalui, suratanNya ini adalah kasih sayangNya untukku, agar aku hidup dengan kuat bukan terlena.
Sejenak aku meratapi diri, betapa aku ini banyak kurang bersyukurnya dengan banyak mengeluh kenapa mesti sering tertimpa fitnah dan tuduhan-tuduhan yang keji dari mulut manis orang yang aku percayai sangat baik.
Lalu serasa ada aliran air sejuk mengaliri hatiku, sejuk membuat rongga dadaku melonggar lega, ada bisikan bahwa semua yang terjadi yang menimpaku itu demi kebaikanku.
Malam tadi, langit mendung pun bisa begitu menawan, udara penuh kesejukan menyapaku.
Alhamdulillah Ya Allah, Kau beri begitu banyak warna dalam hidupku...


Ya Allah, aku mohon kebaikan, baik yg cepat atau lambat, apa yg kuketahui & yg belum ku tahu. Aku berlindung padaMu dr semua kejahatan baik yg cepat atau yg lambat, apa yg kuketahui & apa yg belum kutahu. ... Ya Allah, aku mohon surga & amalan yg dpt mendekatkan pd nya baik ucapan atau amalan. Aku berlindung dr neraka & apa saja yg dpt mendekatkan padanya baik ucapan atau amalan. Dan aku mohon agar Kau menjadikan setiap keputusan yg kau takdirkan itu baik untukku
 (HR. Ibnu Majah)

Tuesday, September 13, 2011

Mulut manismu penuh racun

Negara Tropis panas membara baiknya untuk membakar kebencian agar menjadi kedamaian, sebaiknya begitu.




Aku terkesiap tak menyangka, tuduhan-tuduhan keji yang ditujukan padaku itu hasil pemikiran si mulut manis yang aku anggap memang manis dan tidak berbahaya.
Ternyata aku salah, justru tuduhan keji itu hasil olahan orang baru yang selalu bermulut manis padaku.
Aku kaget penuh dengan kekecewaan, tidak aku sangka tapi memang ini yang harus terjadi, ini yang harus aku lalui.
Kenapa kau menganggapku culas padahal sedikitpun aku tidak pernah merugikanmu, malah aku merasa dekat sampai aku merasa kau orang yang baik dan santun.
Ini memang jalan yang aku lalui agar tersadar kembali bahwa tempat paling mulia adalah hening dalam doa, merintih penuh sedih hanya padaNya semata.
Bahwa Allah tidak pernah mengecewakan hambaNya.
Ini pelajaran mahal bagiku agar aku tidak terlalu eforia menyambut orang yang bermulut manis karena sebenarnya pandanganku cuma sebatas permukaan, aku tidak bisa membaca hati orang.


Aku kecewa tapi bukan berarti menyumpah serapah dirinya dalam doaku. Doa apa yang penuh sumpah serapah ??? Itu bukan doa, doa itu penuh kebaikan, penuh dengan bersihnya hati.
Aku berdoa untuknya agar hatinya kelak bersih dan bening bahkan manis, semanis mulutnya.


*dalam kekecewaan tapi tetap harap penuh kedamaian dan kebaikan, jarak yang jauh baik bagi kita*

Saturday, August 27, 2011

Mata Hati, Mata Jiwa

Negara Tropis, panas membara lalu melumer diterpa angin malam yang dingin.

Ketika ditempa begitu banyak kekurangan, justru jiwa ini dianugerahkanNya mata jiwa.
Dengan mata jiwa yang jernih ini malah bisa diperlihatkan siapa yang asli dan siapa yang palsu terhadap kita.
Semula menerimanya dengan erangan kesakitan hati, patah hati, rapuh lalu serasa mengubur diri.
Selanjutnya berubah menjadi musim semi yang mekar sumringah kaya makna meski penuh dengan balutan kesederhanaan.
Mata jiwa sangat jernih seperti danau tenang dn sejuk dengan segala pemandangan yang indah didalamnya.
Dengan menjalani anak tangga kehidupan baik itu yang rapuh atau yang kuat, keteguhan hati terhadap takdir yang harus dijalani itu yang utama.
Bahwa semua ini sudah selesai dituliskanNya 50.000 tahun yang lalu.
Aku bersyukur dengan mata hati yang datang saat ini, aku bisa dengan jernih melihat itu keindahan dibalik kemunafikan yang dihindarkan dariku.
Aku memang begini adanya, dan aku semakin tahu letakku dimana, kelak aku kalau berjumpa aku hanya mendengar celotehmu saja.

Friday, August 19, 2011

Ketentraman itu Anugrah yang Butuh Kebesaran Hati Menerima Semua yang Terjadi

Ramadhan 1432 H, hari ke 20
Negara Tropis Disapa Hembusan Angin Kesejukan.


Apa arti sebuah cemooh dan ejekan bagi kita ???
Sakit, itu pasti jawabannya.
Ternyata itu jawaban bagi kita yang masih mudah tersulut dengan hal-hal yang menurut rasa perasaan kita yang masih terlalu dangkal menyikapinya, bagi kita yang masih memanjakan diri kita.
Kita lebih mudah menerima pujian, sanjungan bahkan basa-basi terlalu berlebih yang penuh polesan bahwa kita ini baik.
Sebenarnya justru cemooh dan ejekan itulah ajang asahan hati, ajang menetapkan hati kita, mengasah kesabaran kita.


Ramadhan tahun ini, 1432 H, sudah banyak membuat saya berubah.
Allah begitu menguatkan saya dengan caraNya yang tak terduga.
Selalu dipandang dengan skeptis dan selalu dicurigai kalau saya ini intelek dalam intrik-intrik, malah membuat saya membuka mata bahwa perhatian saya yang saya tujukan untuk memaksa orang berubah menurut pandangan saya itu jelas menghasilkan cemooh itu sendiri.
Saya malah lega melaluinya, memang saya harus dijatuhkan, dicabut dari akar kesombongan saya, dikupas habis oleh cemooh dan diperas hati saya, setelah itu apa yang saya dapatkan ?
Saya mendapatkan ketentraman jiwa dengan bisa melihat hati sesungguhnya, cinta sejati itu adalah saling menerima, seperti cinta Allah terhadap saya yang berlimpah.
Saya di Ramadhan tahun ini bisa menyikapi segala cemooh dan ejekan dengan hati tentram, buat apa saya bingung dengan penilaian orang terhadap saya, buat apa saya menyakiti hati saya dengan membiarkan kecurigaan mereka merasuk pada diri saya, buat apa saya membalas perkataan-perkataan menyakitkan pada mereka.
Saya malah terasah untuk bersabar dan untuk berbesar hati menerima semua yang terjadi itu sudah rencana terbaik Allah bagi saya.(DH,mencintai hidup dan menghargai segala hal, kesabaran adalah tujuan utama)


*Ramadhan kali ini penuh kesejukan, ketenangan dengan anugerah mata hati bagi saya*

Monday, May 2, 2011

Satu Tahun Menulis di Blog Bagi Saya

Di dalam diri manusia, setiap manusia memiliki jiwa kepahlawanan. Contoh kecilnya saja begini, setiap kita bercerita atau menceritakan suatu kejadian yang menimpa kita, kita seolah menjadi korban sebuah peristiwa dan mengakhiri cerita itu dengan kesan heroik yang muncul pada diri kita, ehm gimana ya jelasnya aku koq jadi mbulet. 
Begini saja ini sebuah misal yang ada pada sebuah kisah nyata,  kisah si X yang begitu terbuka menceritakan segala konflik yang dialaminya dengan orang-orang disekitarnya semula dia merasa ada seseorang di sekitarnya ini tidak bisa menerima keberadaannya, akibatnya  ada saja yang menjadi bahasan bahwa seseorang ini adalah monster  yang mengerikan, yang begitu ganas sifat keiriannya pada dirinya. 
Semula ketika membaca di awal kisah-kisahnya membuat saya terhanyut oh iya koq ada orang sejahat ini dan saya jelas memihak ke si penulis, saya terhanyut dalam kisah-kisah dramatisnya dan terbuai betapa dia heroik, betapa dia benar-benar orang yang tidak punya salah, sedangkan seseorang  yang dia gambarkan punya iri hati padanya adalah memang monster. Sedangkan si penulis adalah pahlawan dan suci.
Kesadaran dalam menulis dan membaca harus dipelihara menghindari  kejadian emosianal yang saya alami ketika membaca kisah seseorang beserta konflik-konflik yang ia ceritakan begitu gamblang.

Menulislah dengan ringan tanpa beban kebencian, Duhita.
Memperingati  satu tahun saya menulis di Blog, saya menghapus emosi yang memuncak ketika menulis. Boleh saja mengalirkan sebuah cerita mendayu-dayu dalam derita yang sedang dialami tapi sudah seharusnya kita menghapus label  kejam  yang kita berikan ke seseorang  yang kita rasa karena dia kita menderita. Sudah seharusnya saya menghapus kebencian dalam tulisan saya, karena seseorang yang saya labeli buruk sudah tentu sama dengan saya pribadi yang punya sisi buruk. Sudah pasti dia punya sisi baik juga. Tidak adil saya memaki, mengeluh, menghakimi seseorang tersebut dalam tulisan-tulisan saya. Jelas ada suatu ketidak-adilan  kalau saya menulis seenak saya tentang keburukan seseorang itu sedangkan dia tidak saya beri ruang yaitu hak jawab.  Bisa jadi saya terkenal  karena suka menulis dan melabeli  dia seenak perasaan saya yang merasa diperlakukan buruk olehnya  tapi jelaslah saya bukan pahlawan di dalam kisah yang saya tulis. Jadi ingat betul kata-kata Zeus ketika Hercules memohon agar dia dijadikan dewa seutuhnya dan tinggal di kahyangan,   “Jadilah pahlawan dahulu Nak  dan orang mengenalmu kau memang seorang pahlawan”,  begitu kata Zeus. Lalu Hercules menjawab dengan jawaban yang menurutnya cerdik, “Tapi ayah aku sudah terkenal, orang-orang sudah begitu mengenalku, aku terkenal Ayah”, dengan jumawa Hercules menimpali kata-kata ayahnya. Zeus tersenyum dan menjawab dengan telak, “Sayangnya Nak, menjadi terkenal itu berbeda dengan menjadi pahlawan, camkan itu, selamat menjalani harimu dengan berusaha menjadi pahlawan, bukan menjadi terkenal, setelah itu baru kita bertemu di kahyangan”.

Kisah Hercules dan Zeus itu membuat saya merenung di perayaan satu tahun saya menulis di Blog. Saya harus menulis tanpa penghakiman tanpa kebencian. Jelaslah apa yang saya alami dalam hidup itu sudah ditentukanNya, termasuk bertemu dengan konflik-konflik serta bahagia atas penantian panjang dari sebuah perjuangan dan pengorbanan. Allah begitu Maha Baik kenapa saya harus mengumpat tikungan-tikungan tajam yang harus saya lalui ???

Terima kasih untuk : Tjandra Ratna Dewi

*Satu tahu menulis dalam kebebasan dari kebencian di tengah panas 
membaranya Negara Tropis, DH May 2011*

gambar diambil dari : sini

Wednesday, March 16, 2011

Mengetuk Pintu yang Salah


Negara tropis panas tak menentu diterjang beberapa badai yang tak pasti datangnya (tapi kelak akan berlalu)


Saat kesulitan harus dihadapi ada beberapa jalan yang menurut kita itu pilihan sebagai jalan keluar walau sementara. Mengetuk pintu pertolonganNya dengan doa dengan sedikit menempatkan diri pada posisi yang cukup memalukan, meminjam beberapa rupiah dengan menjawab kepastian akan mengembalikannya. Jawaban pastinya adalah doa kita itu didengarNya, itu pasti. Sedangkan pintu yang mana yang dipilihkanNya untuk kita itu yang kita harus membaca sendiri dengan jeli. Dan sebenarnya jawaban itu sudah ada di hati kecil kita. Ada bisikan seperti yang aku rasakan sudah ditandaiNya ketika aku mengetuk pintu pertolonganNya lewat seseorang yang aku anggap layak membantuku, yang aku anggap sangat layak membuka pintu pertolonganNya melalui diri seseorang itu. Dan ternyata justru mataku salah memandang, salah menjatuhkan pilihan meminta pertolongan atau berharap jalan Allah ada di dia. Meleset dari perkiraan, mematahkan hati, sedih terhina, sendiri, itu jawaban yang aku terima. Mestinya aku belajar dari penolakannya untuk membantu kami. Mestinya. Hanya karena bingung entah bagaimana lagi bahkan pada siapa jalan pertolonganNya itu ada untuk kami aku malah mengulangi lagi, memohon bantuan yang jelas tidak cuma-cuma itu kepada orang yang sama. DITOLAK LAGI, DIPERMALUKAN LAGI. TERBENTUR. SAKIT.


Apakah dia menyakiti saya dengan penolakannya itu ? . Jawabnya semula IYA, dia menyakiti saya, selanjutnya saya harus belajar ikhlas dalam menerima sebuah penolakan. Sisanya saya malah merasa dia menutup pintuNya Allah untuk berbuat baik yang sebenarnya dia bisa lakukan karena dia sangat mampu dan bukan hal besar untuk menolong seseorang yang sedang lemah. Saya malah membayangkan bahwa sejatinya kita semua ini bercocok-tanam untuk diri kita sendiri, menanam hal untuk kita panen kelak. Dari pandangan sederhana itu malah saya melihat dia yang begitu kuat dan mampu itu aslinya seorang petani yang kelihatannya mampu menanam tapi malah  menolak menanam. Entah apa yang dia tuai kelak.
Dari dia saya disuruhNya membaca bahwa setiap orang yang mengetuk pintuNya itu akan dilewatkan ke seseorang, dan pilihan seseorang itu sendiri apakah dia mau membuka pintu pertolonganNya melalui dia atau malah menolak. Bahwa setiap orang yang (tidak setiap hari) meminta pertolongan pada kita itu adalah utusanNya agar kita bisa membuka pintu pertolonganNya melalui kita ini.
Semua terserah Anda mau dilaluiNya atau tidak.
Semua terserah Anda mau menanam benih kebaikan yang dikirimNya melalui orang yang meminta pertolongan Anda atau malah menolak menanamnya.

*dikala sedih merasa sendiri*
Gambar diambil dari :disini 

Sunday, March 6, 2011

Bola Salju dan Bara Api

Negara Tropis, hangat dalam pelukan cinta sejuk dalam bara asmara.

Mengenang awal pertemuan yang cukup manis sambil memandang anak-anak yang terlelap tidur membuat kami yakin tentang garisanNya.
Sepintas lalu memang sepertinya saya yang menenangkan dia tapi pada nyatanya justru dia yang mengajarkan ketenangan penuh elegan ketika diterpa badai.
Dari dia saya jadi banyak belajar untuk berpikir realistis.
Dari dia saya jadi belajar untuk tetap konsisten belajar dan mengejar impian.
Memang dia sepertinya tidak perhatian karena sikapnya dingin tapi dengan diamnya itu dia memperhatikan apa yang bisa dia perbuat untuk membantu.

Allah begitu Pemurah padaku ini, bolehlah saat ini kami sedang memulai kembali menata perekonomian kami yang luluh lantak tapi cintanya dia ke kami itu benar-benar mengahangatkan kami yang sedang dingin dalam sedih.
Banyak hal kami lalui bersama, banyak tawa dan tangis, begitu banyak harapan tetap tertanam di benak kami.


 

Sunday, February 27, 2011

dengan Damai

*Negara Tropis Panasnya Diruntuhkan oleh Dinginnya Angin Meniup Hujan*

Awal jatuh aku merasa seseorang bahkan beberapa orang sengaja menjatuhkanku.
Aku sibuk terkubur dalam kesedihan dan merutuk betapa teganya mereka.
Awal jatuh aku sibuk menimbun diriku sendiri dalam kegelapan sakitnya hati.

Begitu aku merenung dalam sunyi, aku berbalik memarahi diriku.
Kenapa aku tidak melihatnya kesedihan dan jatuhnya kami sebagai anak tangga rapuh yang harus dilalui.
Kenapa aku hanya meratapi diri tanpa melihat bahwa semua ini sudah garisanNya di tanganku yang harus kami lalui.
Kenapa aku hanya terpaku melihat sedihnya hati ini.

Kesedihan itu datang memang harus menyapa kami untuk menyibakkan hal-hal yang tak terlihat oleh kami dengan jernih.
Begitu damai yang aku rasakan begitu aku menerima semua ini dengan lapang hati.
Tentang beberapa orang yang sepertinya menikamku, mereka hanyalah Agen Allah Yang diturunkanNya untuk mengasahku.
Kelak kalau pun kami diberiNya kesempatan untuk bertemu mereka, akan aku ucapkan dua kata dalam damai, maafkan kami dan terima kasih atas semua pertemuan kita.

Wednesday, February 9, 2011

Ternyata Sudah DisediakanNya di Sekitar Kita

*Negara Tropis, indah bertabur cinta*

Setelah membongkar serta merapikan lemari, aku jadi menemukan beberapa rok terusan favoritku.
Aku memakainya kembali, dengan berdandan sederhana.
Aku poleskan lipstik warna senada dengan bibirku secara tipis.
Efeknya luar biasa, karena lama tidak berdandan, kulitku jadi kasar kena bedak dan bibirku kering dan pecah kena pulasan lipstik.
Beberapa saat aku panik, tapi aku pendam panikku dengan berpikir jernih.
Pasti ada obat untuk memulihkan semua yang aku alami ini.


Dan seperti luka sebelum diobati sebaiknya dicuci bersih.
Maka aku basuh wajahku dengan air rebusan daun sirih lalu aku bersihkan dengan sabun wajah bersama washlap.
Aku gosok pelan-pelan.
Setelah itu aku keringkan wajahku dengan kaos katun bersih.


Ternyata dari hal sederhana itu terjawab sudah untuk mengobati luka yang timbul hanya karena aku ingin cantik.
Ternyata sudah DisediakanNya di hadapanku bagaimana mengatasi kulitku yang terluka.
Begitu juga dengan cinta, cinta begitu bertabur dihadapan kita kalau hati kita terbuka dengan BerkahNya, hati kita menerima segala bentuk kecantikan yang ada pada diri kita tanpa memaksa memolesnya.
Irasional wanita kalau sudah kadung ingin cantik kembali.
Biar sudah aku begini adanya.

Foto dari http://www.diyinvitationsensation.com/images/hearts_clipart_3.jpg

Tuesday, February 8, 2011

Terbuang

*Negara Tropis panas membakar habis serta memusnahkan iri dan sinis yang menimpaku*


Cuma Cinta Kasih penyirna IRI & SINIS
"Cantik ya menik-menik, lucu, "  Kata Tante yang menyapa gadis usia 5 tahun sambil mencubit pipi si gadis kecil.
"akh lihat aja besarnya nanti jadi apa,  " Kata Teman si Tante memandang sinis si gadis kecil itu.
Tatapan mata si teman Tante itu membekas di hati si gadis kecil sampai si gadis kecil itu beranjak dewasa bahkan sampai dia sudah menjadi seorang Ibu.
Banyak pujian bahkan cercaan pada si gadis kecil itu, mulai dari orang lain bahkan kerabat dekatnya.
Dipuji begitu banyak orang tidak membuatnya sombong dengan sok cantik, malah seringkali membuatnya malu merasa minder.
Dipandang sinis penuh iri hati malah membuatnya merasa biasa dan sangat terbiasa dengan orang yang mencari celah salahnya.
Ditindas ketika masa pertumbuhan dengan dijadikan pesuruh, dijadikan pengawas untuk mengawasi kerabatnya yang asyik berpacaran.
SUDAH TERBIASA
Karena semua yang dialami sampai pernah memandang dirinya rendah, layak dihina, layak dipinggirkan, layak dicaci maki.
Bertahun-tahun selalu terbiasa mudah menerima pandangan yang penuh iri dan sinis.
Aku, si gadis kecil itu.
Kini aku sadari bahwa semua keirian dan sinisme yang ditujukan pada gadis kecil itu adalah BERKAH yang besar untuk mengasah hatinya, bukan meruntuhkan percaya diri dan mengubur nilainya.

Kali ini aku biarkan semua tanpa menyerang hatiku, tanpa merendahkan martabatku.
Terserah kalau ada yang menerima kekurangan dan kelebihanku, yang penting karena aku tahu rasanya bagaimana dicemburui dengan keiriian hati maka aku tidak melakukan hal yang sama.
Aku akan memupuk cinta agar iri hati serta sinisme itu akan sirna.
Aku tahu mereka cuma haus cinta karena itu melihatku dengan iri dan sinis, tidak pernah melihat kelebihanku.
Biarlah begini adanya.

Kembali ke Indonesianya Kita Saja

 *Negara Tropis, begitu melimpah dengan lambaian Pohon Kelapa dan khasiatnya*

Sumber Daya Alam Melimpah di Indonesia
Jenis majalah yang beredar sekarang begitu banyak, bukan hanya jenisnya tapi semua segmen dibidik oleh media.

Sore tadi saya memberanikan diri masuk ke kios majalah tanpa membeli, hanya melihat ragam dan nyambi curi-curi pandang layout majalah (halah kakean gaya padahal yo ora tuku).
Dan meski diplastik rapat saya sudah hapal isinya hihihi
Majala...h tentang "Pria Sehat" mengingatkan saya pada koleksi majalah tersebut milik suami, isinya resep masakan sehat, pengaturan waktu untuk gym, konsultasi seks sehat sampai (ini bagian yg bikin gemas) mode baju olah raga & sepatu olah raga lengkap sedaftar harganya segala  :P  ternyata bukan hanya majalah wanita yang dibidik para kapitalis2 itu.
Kalau dilihat urutan bulannya sampai 12 bulan paling-paling isinya sama hanya diacak saja, lihai ya media itu hihihi.
Pemikiran hidup sehat = ada yang di majalah pria sehat   itu tujuannya jadi semua yang ditawarkan di  majalah itu bakalan seperti dagangan pisang goreng di sore hari yang hujan rintik-rintik alias bakal laris manis  :P
Pria pun biasa berbelanja kalap seperti wanita yang panduannya majalah masa kini Ko*mo atau He*wor*d.
Yang lucu tentang pola pikir Olive Oil itu jauh lebih sehat dari Minyak Kelapa yang kita miliki melimpah di Negeri Indah bernama Indonesia.
Dijajahlah kita oleh produsen Minyak Zaitun A.K.A Olive Oil.
Terang aja Bangsa Mediterania, Eropa & Amerika mengkonsumsi Minyak Zaitun alias Olive Oil karena di tanah mereka Pohon Kelapa yang berlimpah dan bisa menghasilkan minyak alami yang sehat itu tidak tumbuh di tanah mereka, yang ada dan yang mereka olah jadi minyak alami itu adalah Pohon Zaitun (Olive Tree) yang menghasilkan Minyak Zaitun (Olive Oil).
Maka lupalah kita pada minyak kelapa yang sehat itu lalu melabeli minyak kelapa itu minyak yang tidak sehat, minyak penuh lemak jahat hanya karena di majalah kesehatan itu tidak pernah disebut bahkan tidak digunakan di resep masakannya.
Selama kita tidak meminum minyak kelapa sawit untuk pelepas dahaga ya kan tidak mungkin sakit hanya karena makan makanan yang diolah dengan digoreng memakai minyak kelapa atau minyak kelapa sawit. Ya kan ?

Demikian juga tentang jadwal olah raga yang sesuai dengan jam tubuh kita.
Lupalah kita, kita ikuti panduan majalah itu, bahkan jadwal berolah-raga yang mestinya relaksasi menjadi rutinitas keseharusan dan bisa dilakukan bahkan harus setelah jam kantor usai, di saat tubuh kita lelah kita memacunya untuk berolah-raga.
Maka dikatakan kuno dan tertinggal kalau olah raga di pagi hari karena pusat kebugaran buka sampai jam 10 malam dengan sistem member card.
Maka ditertawakanlah kita yang tidak jadi member suatu tempat kebugaran, menjadi pertanyaan ekslusif siapa personal traine kita.
ANEH
Kembali lagi media membawa kita jauh dari Indonesia, jauh dari berpikir sewajarnya.
Bisakah kita kembali ke Indonesia-nya kita saja.
Bukan berarti berpikir secara Indonesia itu kuno.
Yang wajar saja tanpa mengharuskan yang tidak ada jadi ada.

Olah raga itu relaksasi.
Bukan dipaksakan.
Lihat saja yang berolah-raga di pagi hari tetap sehat dan semangat karena olah-raga itu untuk membangunkan jiwa, menyegarkan jiwa.
Senam sehat yang alami yang dilakukan di RRC itu selalu pagi hari, wai tan kung, senam ringan wushu juga dilakukan dengan santai tapi konsisten setiap pagi.
Tubuh kita ada jamnya dan tubuh kita ini ada waktu yang harus kita pahami.
Tubuhku, terlahir tubuh Indonesia, wanita asia yang tidak cocok harus pergi ke pusat kebugaran hanya karena janjian atau pola pikir dari majalah.
Olah raga-ku aku lakukan dengan santai, berjalan pagi setelah sholat subuh sambil menghampiri Mbak Sayur di ujung gang, di malam hari aku biarkan tubuh lelahku beristirahat.
Minyak yang aku pakai memasak bahkan untuk membuat cake kukus untuk anak & suamiku juga minyak sayur , yang wajar harganya sesuai dengan yang tersedia di hadapanku yang disediakan Allahku di Indonesia tercintaku.

*kembali ke Indonesia saja jangan berpaling darinya hanya karena menelan apa yang ada di media*

Foto diambil dari http://s4.hubimg.com/u/504751_f520.jpg

Thursday, February 3, 2011

Pergi Membuatku Mengerti

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air mejadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan..

- Imam Syafii

Dengan jauh dari kenyamanan membuatku mengerti apa arti nasehat tanpa bertahan dengan perasaanku.
Dengan jauh dari kota asalku yang serba mudah membuatku paham bagaimana orang berpendapat meski berbeda dengan pahamku.
Dengan jauh dari kerabat membuatku menjadi jernih memandang mereka tanpa tendensi prasangka dan melihat rendah pemikiran mereka.
Dengan jauh dari kerabat membuatku menghargai apa arti pertemuan, membuatku menghargai hangatnya tawa canda tanpa merasa tersinggung dengan gurauan mereka.
Dengan jauh dari kerabat membuatku meresapi rindu yang melanda.
Menghilangkan rasa sakit dari pandangan yang mencibirkan yang telah lalu, malah mengenang manisnya.
Ternyata begini rasanya pergi dari tempat asal berbekal asa.

Mengenal lingkungan baru membuatku begitu tidak merasa hatiku harus dijaga dengan meninggikan keakuanku.
Dan aku membuka tangan dan hatiku menerima semua Yang Sudah Ditetapkan untukku DariNya.

Saturday, January 29, 2011

Aku Biarkan Semuanya Menguap

Negara Tropis didera angin dan hujan, semula sejuk lalu berubah menyeramkan maka Cuma PadaNya sebaik-baiknya Pelindung tempat aku berpasrah & berlindung, Dia Yang Maha Perkasa  Allahu Ya Wakil (Yang Maha Melindungi)

Siang sampai sore hari ini aku membongkar lemari dan menatanya kembali.
Memilah baju anak-anak sampai menyortir mana yang masih bisa dipakai dan mana yang sudah tidak cukup lagi.
Beberapa yang sudah tidak layak pakai akan aku jadikan koleksi serbet alias lap untuk bersih-bersih.
Yang masih layak tapi sudah tidak muat aku sisihkan untuk bakal diberikan pada siapa yang membutuhkan.
Ada beberapa kenangan yang menari ketika aku melipat baju-baju itu.
Sepertinya memang aku sedang sensitif, hehehe aku sempat tersentuh ketika membereskan baju-baju bayi, teringat kenangan-kenangannya.
Tapi sangat tidak masuk akal kalau aku tetap menyimpannya, bukankah dulu baju-baju bayi Daffa juga tidak aku simpan.
Selimut biru yang ada tudung kepala bayi itu aku sisihkan ada 2, punya Daffa & Cici.
kenangan itu seperti embun, indah tapi tidak mungkin menetap selalu berganti di kemudian hari.
  *foto diambil dari cottagewytch.blogspot.com*
Aku masukkan tas yang layak dan aku antarkan ke seseorang yang punya bayi.

Giliran membongkar baju-bajuku, aku terpaku di beberapa kebaya-kebayaku.
Kenangan-kenangan kapan memakainya menari dihadapanku, aku diam sejenak berusaha mengaburkan kenangan dimana aku begitu senang memakainya begitu senang dengan kerepotan berkebaya dan berkain panjang.
Aku sisihkan, entah kenapa aku begitu takut menyentuhnya.
Aku beralih ke baju-baju suamiku, aku lipat dan aku sortir mana yang masih dia pakai dan mana yang tidak lagi dia pakai lagi.
Dan aku terjebak lagi, ada beberapa hem yang meski tidak sama dengan kebayaku tapi sering aku padu padankan kalau kami ke undangan dan jamuan kerabat dan teman, membuatku mengenangnya.
Akh sudahlah biarkan semua menguap, seiring dengan berjalannya waktu.
Kenangan-kenangan itu seperti embun, sejuk tapi tak selamanya menetap, selalu berganti dengan kenangan-kenangan baru.
Embun tetaplah sejuk meski menguap terkena hangatnya sinar matahari, membakar perlahan lalu menguap.
Cukup aku simpan kenangannya tapi tidak barangnya.

*setelah mendaur ulang*

Thursday, January 20, 2011

Mencintai Diri

*Negara Tropis, Matahari bersinar dengan malu-malu serta pasrah pada mendung yang menggelayutinya, manja.*


Kemarin siang aku chat dengan Agusta atau Otik, sahabatku di kelas 3 SMP.
Kami saling bertukar cerita tentang kesehatan masing-masing.

Dari begitu banyak keluh kesahku tentang pusing yang sering menderaku akhir-akhir ini aku jadi tahu satu hal berharga dari saran Otik.

Pusing itu bisa jadi karena stress dan stress itu tidak bisa kita hindari tapi bagaimana cara mengatasinya dan menghadapinya itu yang utama, begitu kesimpulanku dari nasehat Otik.
"Tante Tata (begitu dia memanggil aku) luangkan waktu untuk mencintai dirimu, memijat diri, dan jangan lupa menghargai diri kita sendiri dengan istirahat yang cukup", begitu kata Otik.

Beginilah persahabatan manis kami saling mensupport meski terpisah jauh, aku tetap menjamur di dunia antah berantah dan Otik di Australia.
Otik, kamu selalu dihatiku  

Sunday, January 16, 2011

review ala duhita Love in the Time of Cholera (bagian 2) *cuma dari kacamata penggemar film drama alias bukan pengamat film*

Adegan penuh nelangsa tapi halus, Fermina menerima pinangan Dr Juvenal Urbino.
Florentino Ariza sampai menangis sedih meringkuk, pilu dalam kata-kata penghiburan ibundanya.
Sepintas ada bahagia yang nampak pada Fermina Dazza setelah menikah.
Secara tidak sengaja Florentino berjumpa dengan Fermina & Dr Urbino (diperankan oleh aktor Benjamin Bratt *lali wingi gak tak sebutno, dasar amatir*), sumringahnya Florentino menatap Fermina dan ketikas sadar Fermina sudah menikah, wajah Florentino berubah muram terlebih ketika dia melihat Dr Juvenal Urbino.
Javier Bardem sangat piawai memainkan perannya, perubahan mimiknya begitu natural (pantesan Penelope Cruz jatuh cinta padanya  *halah ajur ono muatan berita lain*)
Florentino Ariza jadi penulis surat untuk umum, maklum jaman itu bisa menulis dan membaca masih rendah.
Florentino menerima permintaan seorang pria untuk menuliskan surat cinta pada psangannya.
Kata-kata indah Florentino mengalir indah.
Digambarkan di film ini bagaimana pasangan itu akhirnya menikah dan memiliki seorang putra.

Sepertinya jawaban Fermina ketika Florentino sempat meminangnya itu benar-benar dipegang oleh Florentino, boleh Fermina menikah dengan Dr Juvenal Urbino tapi dia yakin kelak Fermina akan menerimanya, tentu Florentino menanti masa janda Fermina dengan catatan menanti Dr Juvenal Urbino meninggal, tidak perceraian yang berlaku bagi keyakinan mereka.
Semuanya digambarkan syahdu dan halus.
Untuk mencapai cita-citanya mendapatkan Fermina kelak, Florentino sadar dia harus bekerja keras agar dia punya harta dan kedudukan.
Semuanya boleh sesuai rencana hidup masing-masing tapi tetap saja jalan hidup tidak mudah.
Florentino menjaga hatinya memang untuk Fermina Dazza seorang tapi dia melaluinya dengan hubungan affair dgn banyak wanita dalam kurun waktu 50 tahun itu.
Malah Florentino menyebutkan jumlah wanita yang terlibat affair dengannya kepada penjaga mercusuar yang menjadi sahabatnya, 622 wanita.
Pernikahan Dr Juvenal Urbino dan Fermina Dazza pun tidak seperti kelihatannya yang bahagia dan stabil, ada suatu masa dimana Dr Urbino terlibat affair dengan wanita lain.
Hancur hati Fermina, tapi dihadapinya dengan tenang, Fermina yang nampaknya rapuh itu malah kelihatan berkuasa.
Terlebih ketika dia menjawab nelongsonya Dr Urbino disini Benjamin Bratt pun bisa terlihat rapuh karena patah hati yang dia rasakan setelah memutuskan hubungan dengan wanita simpanannya.
Sosok Dr Urbino yang angkuh dan penuh percaya diri bisa habis rata, bravo Benjamin Bratt, aktingnya luar biasa.

Sebelum kejadian affair ini ada Fermina sudah merasa bahwa pernikahannya hanya nampak indah dari luar.
Penolakan atau tidak begitu diakui kedudukan Fermina sebagai istri Dr Urbino dari Ibunda Dr Urbino kelihatan sekali.
Nampak di acara minum teh bersama, begitu cara orang kuno ngerumpi.
Tanpa Fermina sadari dia mengakui Florentino adalah bayangannya, ini terlontar ketika kumpulan ibu-ibu kelas atas ini membahas Florentino Ariza sebagai pemilik ekspedisi kapal barang dan kapal pesiar mewah.
Dr Urbino tahu bahwa di dalam hati istrinya ada sesuatu yang tersimpan tanpa ia sadari sebelumnya.
Adegan Dr Urbino menjumpai Florentino Ariza sangat halus dan jelas, Dr Urbino selalu menegaskan betapa dia mencintai Fermina, Florentino bisa dengan tenang menekan emosinya walaupun dia serasa kehilangan udara.

Fermina merasakan begitu cintanya Florentino ketika dia tanpa sengaja memandang bangku di bawah balkon kamarnya, teringat Florentino meminangnya. Dia bergumam bagaimana pun cinta itu unsur terpenting dari pernikahan sampai dia sedikit berkhayal bisa jadi dia hidup bahagia dengan Florentino jika dia berani memilih Florentino.
(asli aku terhanyut, ayahab lop)
Para artis yang terlibat film ini mendukung keindahan karya Gabriel Garcia Marques ini.

Sampai kembali ke adegan pembuka film ini, aku baru tahu intinya.
Penantian Florentino Ariza pada Fermina Dazza benar-benar penuh pengorbanan itu tidak serta merta mendapatkan sambutan baik dari Fermina.
Tapi Florentino tetap berjuang memperbaiki hubungan pertemanan mereka yang sudah tak lagi muda.
Perjalanan waktu bisa begitu digambarkan dengan realistis oleh Gabriel Garcia Marques sampai juga di Film Love in the Time of Cholera ini jadi klik.
Layak ditonton bagi penggemar film drama.
Alurnya halus.
Dan aksen latinnya begitu kental membuat aku mudah mengerti kata-katanya (*soale malih jelas Englishnya*)
Film ini disutradara-i oleh Mike Newell, Dibintangi oleh Javier Bardem, Benjamin Bratt dan
Giovanna Mezzogiorno. Dirilis di tahun 2007.
Layak ditonton  :)
Akhir Film ini juga indah (asli gak tak bocorkan akhirnya ben Dewi & Aan membaca novel tebalnya huahaha).

Somewhere outhere, 17 January 2011. Review Film by duhita yg pertama kali dipublish.
hihihi, ajur kan

*Foto diambil dari  :http://2.bp.blogspot.com/_V-cFBjtB3-Q/TSJYVEBFZnI/AAAAAAAAB3A/3Xk9Pa5NZ1E/s1600/love-cholera.jpg
 

review ala duhita Love in the Time of Cholera (bagian 1)

Metro Tv Sabtu, 15 January kemarin menayangkan film ini.
Aku sudah menanti sejak dari hari selasa sebelumnya maka aku tempel sticker kecil pengingat di atas Tv butut kami hihihi.
Film ini menarik karena Film ini berdasarkan Novel Karya Gabriel Gracia Marques  dengan judul yang sama "Love in the Time of Cholera".
Disamping nama penulisnya yang aku kenal dari  aku umur 17 tahun karena ketika itu Harian Jawa Pos memuat
"One Hundred Years of Solitude" sebagai cerita bersambung dari situ aku mengenal karya besar Gabriel Garcia Marques ini, novel dengan judul Film itu juga membuat si penulis ini menerima Nobel Sastra kalau tidak salah tahun 1983  (kalau salah dikoreksi ya)
Judul asli Novel ini  "El Amor en Tiempos del Cólera"  dan diterjemahkan dalam Bahasa Inggris "Love in the Time of Cholera" 

Film Love in the Time of Cholera (rilis tahun 2007) ini bersetting sekitar tahun akhir 1800 sampai tahun 1920-an.
Bercerita tentang cinta segitiga yang penyajiannya halus dan wajar.
Yang membuatnya istimewa adalah tokoh pria utama di Film ini yaitu Florentino Ariza pegawai telegram  diperankan oleh Javier Bardem yang setia menanti kekasih hatinya Fermina Daza diperankan oleh Giovanna Mezzogiorno , cinta pertamanya itu selama 51 tahun.
Dibuka dengan adegan kematian Dr Juvenal Urbino 80 tahun yang terjatuh dari pohon mangga (suami dari Fermina Dazza) lalu pemakaman yang menyedihkan sendu sampai sapaan dari Florentino Ariza di rumah Fermina Dazza, disebutnya lamanya penantiannya itu sampai membuat Fermina marah karenanya.
"Fermina I have waited for this opportunity for 51 years, nine months and four days. That is... how long I have loved you from the first moment I cast eyes on you un... until now".
*asli aku yo sik bingung di awal*

Pertemuan pertama Florentino & Fermina begitu berkesan di akhir tahun 1800-an itu (jelas ketika mereka masih muda), sampai surat-surat pujian alias surat cinta Florentino Ariza yang penuh dengan kata-kata indah itu selalu datang menghujani Fermina Ariza.
Cinta pertama yang tertanam pada diri Florentino Ariza ini lah yang jadi benang merah film ini.
Fermina Ariza yang menanggapi dengan gugup, malu-malu mau itu malah membuat Florentino Ariza yakin bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Penyampaian surat melalui berbagai kesempatan digambarkan begitu indah, ketika selesai misa di setiap Minggu pagi menjadi romantis dimana dua sejoli ini malu-malu bertukar surat atau saling menerima surat.
Pandangan Florentino yang penuh cinta disambut curi-curi pandang oleh Fermina.
*asli rasane aku melu terhayut, halah*
Menulis surat pun jadi demikian romantis dengan kata-kata yang indah halus dan tidak berlebihan, suara dari Florentino ketika menuliskan surat jadi syahdu demikian juga suara dari fermina terdengar olehku ketika Florentino membaca surat balasan dari Fermina, wajah tenang Florentino bisa sedemikian sumringah hanya dengan membaca surat balasan dari Fermina.
Romantis.
Acara penyampaian surat yang demikian romantis baik secara langsung baik melalui kurir itu sangat digambarkan bahwa satu-satunya berkomunikasi dengan surat itu jadi indah dan mendebarkan.
Sayangnya kisah cinta ini ditentang ayah dari Fermina Dazza, diancamnya Florentino Ariza, dijelaskannya kalau dia menginginkan anaknya berjodoh dengan orang yang mempunyai kedudukan dan terpelajar bukan seperti Florentino yang cuma petugas telegram yang bergaji kecil.
Florentino Dazza tidak gentar malah menjawab ancaman ayah Fermina bahwa kalau tidak menjauhi putrinya maka Florentino akan menyesal , dengan kata-kata yang tenang dan bagiku romantis Florentino menjawab
"The only regre...t I will have in dying is if it is not for love".
"Shoot me. There is no greater glory than to die for love".
Demikian tantang Florentino ke ayah Fermina. 
Fermina dibawa paksa oleh sang ayah pindah ke daerah yang terpencil, adegan perpisahannya pun mengaduk emosi (emosiku maksudku)
Fermina memotong rambutnya lalu potongan rambutnya itu dikirim ke Florentino melalui kurir.
Fiuh rasanya ikut nelongso pas Florentino mengusap potongan rambut Fermina.

Beberapa tahun kemudian Fermina kembali ke kota, Florentino yang menjumpainya tanpa sengaja di tengah keramaian pasar tradisional begitu terpukau dan menghampiri Fermina.
Dengan berdebar dan gugup Fermina menegaskan pada Florentino bahwa hubungan mereka cuma ilusi.
Sebelum pertemuan mereka Fermina sempat demam tinggi dan diare hebat, ayahnya mengira putri tunggalnya itu mengidap cholera, dan disitulah awal perjumpaan Fermina dengan Dokter muda yang baru saja datang dari Paris, Dr Juvinal Urbino (diperankan oleh Benjamin Bratt). Setelah pertemuan tak sengaja itu Dr Urbino terpukau dan jatuh cinta kepada Fermina.
Didukung oleh ayah dari Fermina akhirnya Fermina mau menerima pinangan Dr Juvenal Urbino.
Langit serasa runtuh bagi Florentino Ariza begitu tahu Fermina menikah dengan Dr Juvenal Urbino.
Ibunda Florentino meratap begitu melihat putranya terbaring meringkuk meratapi kehilangan cintanya.
"Sembuhkan hati putraku Tuhanku", begitu kata-kata dari Ibunda Florentino

---------------bersambung aku sik ndredek eling patah hatinya Florentino dan gamangnya Fermina--------



*Catatan: Karena penulisnya orang Amerika Latin dan setting tempatnya juga Amerika Latin jadi aksen bahasa inggrisnya kental dengan logat latin  ;-)  jadi ingat Salma Hayek & Antonio Banderas

Foto diambil dari  : http://lucresialinton.com/wp-content/uploads/2010/10/love-in-the-time-of.jpg

Friday, January 14, 2011

Mampuku

*Negara Tropis kesejukan yang lama aku rindukan itu mulai terasa*

Mampuku memang cuma bisa mendampingimu karena aku sudah tak mampu lagi menuntutmu untuk hanya sekedar memujiku karena semua yang aku lakukan untukmu itu tidak mengharap penghargaan darimu
Mampuku memang cuma mendampingimu walaupun aku tak senada denganmu

Bukankah cinta itu butuh nada lain yang tidak senada agar bisa bersanding bahkan merangkai nada yang berbeda
mampuku hanya memberi jernihnya cintaku padamu
Bukankah cinta itu murni, jernih tanpa mengharap balasan.
Bukankah cinta itu memberi tanpa mengharap untuk mendapatkan
Bukankah cinta itu membiarkan kebahagiaan datang
Bukankah cinta itu memeluk jika kesedihan menyapa

Mampuku memang hanya seperti air yang tidak banyak tapi berharap jadi menyejukkanmu

Biarkan aku dengan mampuku ini untukmu.

*Ketika Cinta terlihat dimana-mana*
 
 Foto diambil dari  :http://themastercleanse.org/wp-content/uploads/pure-water.jpg 

Thursday, January 13, 2011

Menerima Hadiah Hari ini

Negara Tropis mulai terasa sejuknya

Hari ini pasti berbeda dari kemarin, hadiah hari ini adalah menghadapi apa yang terjadi, menghadapi cinta yang mulai mekar kembali.
Sebelumnya aku begitu ceroboh selalu mengeluh dalam hati, merasa lelah dengan semua ini.
Tapi hari ini aku membuka tanganku dengan penuh syukur, membuka hatiku dengan damai.
Karena aku tahu dengan damai aku bisa melihat cinta itu ada untukku.
Anak-anak lucu dengan celotehnya, mata bening mereka itu oase nyata bagiku.
Pandangan dari mereka itu hadiah yang selalu Dihadirkan untukku.
Keyakinan suamiku pada jalan Yang Disediakan Allah membuatku ada dalam kepasrahan yang dalam.


Menerima apapun itu hal mudah jika kita menyediakan hati utk menerimanya
Hadiah hari ini pasti istimewa kalau aku menyediakan hatiku sepenuhnya untuk menerima.
Untuk selalu tersenyum ketika membukanya.
Selalu tersenyum dan merasa diajak bergurau pas menemukan hal yang sulit.
Kesulitan kan disediakan untuk diselesaikan sepenuhnya dengan hanya meminta PertolonganNya.


Setiap hari itu jadi hadiah yang indah kalau kau menyediakan hatimu Duhita.
 



Sunday, January 9, 2011

dari Film Click sebuah Pesan untukku

*Negara Tropis sedang didera hujan, Matahari malu-malu menampakkan sinarnya*

Beberapa hari yang lalu ketika aku menemui kesulitan-kesuliatan dalam hidupku aku rasanya ingin melompat keluar dari semuanya.
Aku ingin bergegas melihat hasil dari masa melewati kesulitan-kesulitan itu.
Begitu lemahnya diriku sampai aku rela ingin menghilangkan semua kesulitan yang sedang berproses pada hidupku.
Berkali-kali aku meneguhkan hati kalau kelak aku menuai hasil dari semua ini.
Dasar aku terlena dengan lemahnya pikiranku sampai aku lupa melihat keindahan-keindahan yang sedang tumbuh mekar dibalik kesulitan yang aku hadapi.

Baru aku sadari lagi setelah aku tanpa sengaja menonton Film Click, Film yang dibintangi Adam Sandler realese tahun 2006 ini ditayangkan di salah satu Stasiun TV Swasta.
Aku melihat begitu   Michael Newman (Adam Sandler) menghabiskan banyak waktunya untuk berkarir dengan alasan utk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya yang kuar biasa manisnya ini dengan limpahan materi.
Tanpa dia sadari dia kehilangan momen-momen indah bersama keluarga kecilnya hanya karena dia ingin melewati kesulitan-kesulitan yg dia anggap mengganggunya.
Hanya karena dia ingin tahu bagaimana kejadian-kejadian selanjutnya tanpa merasakan atau dgn melewati kesulitan-kesulitan yang menghambatnya.
Ternyata malah melewati kesulitan tanpa mengalaminya membuat dia ceroboh hanya karena dia memencet tombol skip pada remote hidupnya.
Dari Film yang tanpa sengaja aku lihat membuat aku sadar dalam tepi anganku.

Kesulitan-kesulitan yang aku hadapi itu sudah seharusnya aku alami dan aku jalani untuk melewatinya.
Semua ini untuk mengasahku bukan malah membuatku cengeng mengeluh sana-sini, lalu menyalahkan diri bahkan menyalahkan orang lain yang aku anggap andil dalam kesulitan yang aku hadapi.
Semua kesulitan itu ternyata proses latihan kita, seperti pepatah yang sering aku baca, untuk menjadi bisa itu harus terbiasa dengan berlatih.
Semua kesulitan itu soal yang harus kita lalui dengan mengerjakannya sungguh-sungguh, memang tidak ada nilai yang saklek membenarkan langkah kita ketika menghadapinya.
Tetapi selama kita berusaha, jalan keluar itu ada.
Maka aku nikmati semua yang terjadi dalam hidupku ini dengan usaha dan aku balut dengan doa.
aku memilih tombol PLAY untuk menjalani hidupku
Selanjutnya tentang hasil, aku pasrah.
Tidak akan aku gantungkan hanya pada apa yang aku inginkan karena aku yakin Allah Maha Tahu dan Mengerti Yang terbaik untukku.
Maka di sisa umurku ini aku akan menikmati segala kejutan Yang Disediakan Allah untukku dengan sepenuh hati menerima.
Aku memilih menjalani dengan berjuang menghadapi kesulitan yang aku hadapi agar kelak aku bisa menghargai hasil yang aku tuai dan menghargai selalu meghargai perjuangan siapa pun dalam hidup.

*gambar diambil dari  http://dvice.com/pics/David-Chacon-Universal-Remote.jpg*

Saturday, January 1, 2011

Perempuan dalam Damai

Negara Tropis, panas lembab, matahari enggan bersinar



Perempuan dalam Damai

Tidak aku ributkan lagi apa itu kosmetik
Tidak aku ributkan bagaimana membuat diriku cantik
Tidak aku ributkan model baju dan tas yang sedang trend saat ini
Tidak aku ributkan model sepatu apa yang cocok denganku
Tidak aku ributkan siapa yang mau berteman denganku
*aku siap tumbuh meski hanya jadi ilalang tapi dalam damai*


Aku sudah dalam damai dengan diriku saat ini
Aku sudah damai dengan keadaanku saat ini
Aku sudah damai bahkan sangat damai dengan diriku yang apa adanya ini


Aku tidak terasing lagi
Aku tidak membenci diriku sendiri
Aku tidak membenci orang-orang yang Disediakan untuk Mengasahku
Aku bahkan sudah tak mampu membenci orang-orang yang begitu mengusikku...
Karena aku tahu menjadi damai adalah pilihan terbaik menyambut hari Yang akan dihadiahkanNya kepadaku
Karena aku tahu setiap tangga kehidupanku harus aku hargai sebaik mungkin.
Aku dalam damai.



*gambar saya ambil dari :
*http://fc02.deviantart.net/fs71/i/2010/204/3/8/Peacefull_chaos_by_Runaque.jpg*